Pengalaman Menggunakan E-Toll Card
Saya adalah salah satu pengguna e-toll card yang baru. Kartu prabayar yang dikeluarkan oleh Bank Mandiri ini saya beli di gerbang tol Cawang dalam perjalanan ke kantor. Saya pikir tidak ada salahnya memiliki kartu tersebut karena toh tiap ke kantor pasti lewat tol.
Pada awalnya saya beranggapan bawah e-toll card merupakan salah satu peningkatan layanan dari Jasa Marga, perusahaan pengelola tol dalam kota. Dengan adanya kartu ini diharapkan transaksi di gerbang tol lebih cepat dan mudah. Apalagi pada beberapa gerbang tol disediakan GTO (gerbang tol otomatis), gerbang tol yang beroperasi tanpa tenaga kerja.
Selain jalan tol, e-toll card juga bisa digunakan untuk transaksi lain misalnya mengisi BBM di SPBU, belanja di minimarket, dan merchant lain yang ada logo ‘Mandiri Prabayar’. Sama seperti kartu prabayar MRT di Singapura yang dapat digunakan untuk beragam transportasi dan belanja.
Pada kenyataannya e-toll card belum dapat mencapai apa yang diharapkan. Gerbang tol otomatis yang masih dalam tahap uji coba sering bermasalah sehingga menyebabkan antrian yang panjang. Menggunakan e-toll card di gerbang yang bukan GTO juga tidak lebih cepat daripada membayar uang pas.
Saya beranggapan bahwa e-toll card ini hanya untuk menyaingi kartu Flazz dari BCA yang sudah lebih dulu diluncurkan. Pihak bank melihat kartu prabayar cukup diterima di masyarakan sehingga mereka mengeluarkan produk yang sama dengan menggandeng perusahaan tol untuk memasarkannya.
Kompetisi dapat memiliki dampak yang baik juga buruk untuk konsumen. Kompetisi operator gsm misalnya yang membuat tarif telpon seluler terus turun agar masyarakat setia atau beralih ke operator lain. Dalam kasus e-toll card dampaknya cukup buruk karena sekarang saya harus punya 2 kartu prabayar. Peluncuran e-toll card juga terkesan tidak matang karena belum semua tol menggunakannya.
Saya berharap e-toll card dapat memperbaiki layanannya dan mungkin berkolaborasi dengan kartu prabayar lain agar konsumen tidak sulit untuk bertransaksi.


