A Story Worth Telling
Kemaren aku bersama seorang temen, sebut saja namanya Nova, mau pulang ke Jakarta setelah menghadiri acara pernikahan di Bogor. Tadinya pengen naek kereta Pakuan (yg kelas bisnis) tapi karena kereta terakhir sudah berangkat maka kamipun memutuskan naik kereta yang ekonomi.
Kata dia sih kemaren itu penumpangnya tidak terlalu penuh, tapi tetep saja kami ga kebagian duduk. Akhirnya kamipun berdiri. Tak lama setelah kereta bergerak, ada bangku yang kosong di pinggir pintu keluar. Nova buru-buru duduk di bangku itu sedangkan aku masih berdiri.
Tak terasa stasiun demi stasiun kami lewati. Aku juga udah dapet jatah duduk bersebelahan dengan dia. Mataku mulai terasa berat. Ini adalah efek samping menonton Pirates of The Carribean 3 tengah malam.
“Lo ngantuk cos?”, tanya dia. Aku cuma bisa ngangguk-ngangguk sambil mencoba tidur.
Di stasiun Universitas Pancasila, aku sudah mulai tidak menghiraukan suara-suara lagi. Sampai pada saat kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun ada yang teriak. Aku kaget dan ternyata teriakan itu berasal dari sebelahku. Ya..si Nova! Dia lagi tercengang. Pas lihat, tasnya sudah ga ada. Dia dicopet saat kereta sudah bergerak dan copetnya buru-buru lari meninggalkan kereta dan keluar stasiun. Kata orang sih modus ini sudah sering terjadi.
Seorang penumpang disitu sempat ada yang ngomong, “Wah copet mas! Kejar!”
Tanpa pikir panjang aku pun langsung lompat keluar kereta. “BUKK”, aku terjatuh dan setelah berdiri kulihat pencopetnya masih ada di bawah (jarak rel kereta sama tempat nunggu kan lumayan tinggi). Aku langsung lari mengejar sambil berteriak “Copet! Copet!”
Tiba diujung tempat tunggu, lagi-lagi tanpa pikir panjang aku lompat ke bawah ala Nathan Petrelli. “BUKK”, dan akupun terjatuh lagi. Pencopet itu sudah keluar stasiun dan berlari ke jalan raya. Untunglah seorang pemuda yang melihat kejadian itu turut mengejar pencopet tersebut. Setelah mengejar kurang lebih 200m pencopet itu menyerah dan berhenti.
“Bang, ini tasnya saya balikin deh”, katanya sambil menyerahkan tasnya Nova. Bagai Peter Parker yang memaafkan musuhnya, akupun mengambil tas tersebut. Kalau Peter Parker bilang “I forgive you”, aku bilang “Sampah lu!”
Sambil berjalan balik ke stasiun, tas itu kugenggam erat-erat. Setelah setengah jalan dan pencopetnya sudah tak kelihatan lagi, baru aku sadar untuk mengecek isi tasnya. Kubuka, ku rogoh-rogoh. Dompetnya ada, isinya dompetnya juga ada, tapi mana handphonenya? Yaah..kayanya pas kejar-kejaran si sampah itu sempet ngambil.
Aku juga baru teringat sama Nova, “Nasibnya Nova gue tinggal lompat gimana yah?”
“Ah gampanglah..ntar gue telepon aja. Loh..kan hapenya di gue!”
“Atau mudah-mudahan dia punya inisiatip telepon gue dari wartel buat ngasih kabar”
“Loh..kan dompetnya di gue!”
“Waduh!”
Ternyata setelah sampai di stasiun dia sudah menunggu diatas. “Nov..ini tasnya. Tapi HP lo ilang kayanya”, kataku sambil nyerahin tasnya.
“Udah, gapapa lah, Kos”, jawab dia. Setelah dia merogoh-rogoh tasnya lagi ternyata HP nya masih aman diselipin di kantong dalam tasnya. Baguslah.
“Lo lompat juga Nov?”, tanyaku sambil berjalan keluar stasiun.
“Iyalah..ngapain juga gue di dalam ga punya apa-apa gitu”
Bener juga sih.
Setelah itu aku langsung nyetop taksi buat nganterin dia balik ke rumah. Di taksi baru kelihatan tangannya sudah luka-luka dan ada bagian bajunya yang sobek. Lumayan parah.
“Koq lo ga luka sih kos?”
“Gue kan lompatnya bertehnik Nov. Makanya nonton Prison Break dan 24 dong!”
*gubraks*
Moral of the story:
1. Jangan pernah naik kereta kelas ekonomi
2. Kalaupun terpaksa harus naik, lihat poin #1


