Reality Show Is Playing God
Selama liburan Idul Fitri saya banyak menghabiskan waktu di rumah dengan menonton tv. Ternyata di Indonesia (atau bahkan dunia) masuk tv sudah menjadi hal yang biasa. Ini disebabkan menjamurnya reality show terutama di stasiun tv swasta Indonesia. Topik-topik yang disuguhkan oleh acara-acara ini juga beragam. Mulai dari ngisengin orang, menyatakan cinta, mengawasi kegiatan pacar, bagi-bagi uang, dan masih banyak lagi.
Satu topik reality show yang sangat mengganggu pikiran saya adalah yang menguji kejujuran atau bahkan iman dengan menghadapkan seseorang pada orang lain yang membutuhkan bantuan. “Toloong” misalnya, reality show yang menguji kemanusiaan seseorang (yang miskin) untuk membantu orang yang berpura-pura kesusahan. Jika orang yang diuji tidak bersedia maka akan keluar cap “MENOLAK” pada layar televisi kita. Sedangkan jika bersedia membantu akan diberikan hadiah yang lumayan (kemarin hadiahnya Rp 3,5 juta). Saya lalu berpikir, siapa mereka sehingga berhak menilai, menguji, dan menghakimi orang-orang tersebut. Dan siapa mereka sehingga berhak memberi pahala atas perbuatan baik seseorang.
Untuk orang yang beruntung, yang bersedia membantu, memang patut dijadikan pelajaran bagi kita semua. Namun karena hadiah yang disediakan seakan-akan para pelaksana reality show itu sedang bermain-main dengan nasib seseorang. Jika mereka baik akan mendapatkan pahala berupa hadiah uang, sedangkan jika tidak akan dicap jelek dan diketahui orang banyak. Padahal belum tentu orang yang menolak memberikan bantuan pada saat itu adalah orang yang tidak dermawan. Mungkin ada faktor lain yang menyebabkan dia tidak bisa memberikan bantuan pada saat itu. Reality show ini menurut saya tidak lain hanya ingin mengeksploitasi orang miskin untuk menarik simpati penonton.
Reality show yang terakhir saya tonton adalah “Jujur Atau Engga” (JAE). Reality show ini menguji kejujuran seseorang dengan berbagai kasus yang sudah diskenariokan. Bagi yang jujur akan diberi hadiah uang tunai sekitar ratusan ribu rupiah. Untungnya, bagi yang tidak jujur, wajah mereka tidak terlalu diekspos melainkan diburamkan. Menurut saya ini lebih baik sehingga tidak melakukan Pembunuhan Karakterâ„¢ bagi mereka yang tidak jujur. Tapi tetap saja idenya masih kurang baik: menguji kejujuran. Tidak ada satu orangpun yang berhak menguji hal-hal seperti itu. Itu menurut saya.
Satu hal lagi, reality show dengan tema-tema seperti ini hanya ada di Indonesia. Reality show asing yang pernah saya tonton hanya bersifat fun tidak sedalam reality show di Indonesia. Jadi apakah reality show seperti ini layak dijadikan tontonan?


